Health & Nutrition Services

Zat besi atau Fe merupakan mineral mikro yg paling banyak masih ada di dalam tubuh dan memiliki fungsi yg sangat penting dalam kesehatan. Mineral ini juga banyak dijumpai pada kuliner, tetapi tidak sedikit penduduk pada dunia, termasuk Indonesia masih mengalami kekurangan zat besi. Kekurangan atau defisiensi zat besi ini adalah penyebab primer terjadinya anemia gizi dibanding defisiensi zat gizi lain misalnya asam folat, vitamin B12, vitamin C, dan elemen lainnya.Apa itu Zat Besi?

Zat besi merupakan mineral essensial yg berperan dalam pembentukan hemoglobin sel darah merah yg diperlukan tubuh buat menyimpan & mengangkut oksigen berdasarkan paru-paru ke seluruh organ tubuh. Selain itu, sel darah merah jua berperan pada pembuangan karbondioksida menurut sel-sel tubuh pada paru-paru. Jika tubuh kekurangan sel darah merah, maka penyebaran oksigen akan terganggu.

Zat besi merupakan bagian menurut enzim pada dalam tubuh yg membantu mencerna kuliner & reaksi-reaksi penting lainnya, sehingga defisiensi mineral ini akan berdampak jelek bagi kesehatan tubuh.

Asupan zat besi harian diharapkan buat menggantikan zat besi yg keluar baik melalui feses, urin, maupun keringat. Kebutuhan akan zat besi semakin tinggi selama kehamilan, masa balita, anak usia sekolah & remaja. Pada masa balita, usia sekolah dan remaja, zat besi dibutuhkann buat proses tumbuh kembang anak, sedangkan dalam masa kehamilan zat besi sangat diharapkan buat pertumbuhan & perkembangan janin.

Kekurangan mineral ini bisa mengakibatkan anemia defisiensi zat besi dengan gejala mulai berdasarkan cepat lelah, lemah, indolen, pusing, sakit ketua, penurunan performa dan lain-lain. Hal ini dikarenakan kekurangan zat besi mengakibatkan hemoglobin pada tubuh akan menurun sebagai akibatnya oksigen yang diedarkan sebagai terbatas dan energi yg dihasilkan sang tubuh pun tidak optimal.Sumber Zat Besi

Sumber zat besi yg baik, diantaranya:

HEME (Hewani)Hati, misalnya hati ayam, hati sapiDagingAyamIkanUdangKerang

NON-HEME (Non-hewani)Kacang-kacangan, seperti kacang merah, kacang hijau, kacang pinto, kacang kedelaiNuts, seperti almond, walnut, kacang menteBiji-bijian utuh, seperti beras merahSayuran hijau, misalnya bayam, kale, brokoli, sawiPenyerapan Zat Besi

Penyerapan zat besi terjadi pada usus dua belas jari (duodenum) & usus halus (jejenum) permukaan. Zat besi memasuki lambung dari kerongkongan pada bentuk besi (ferri) lalu teroksidasi dalam bentuk besi larut (ferro). Asam lambung akan menurunkan pH sebagai akibatnya bisa mempertinggi kelarutan & penyerapan zat besi. Ketika produksi asam lambung terganggu, penyerapan zat besi jua akan terganggu.

Setelah berbentuk ferro, sel mukosa usus pada duodenum & jejenum akan menyerap zat besi ini. Penyerapan zat besi dibantu oleh protein spesifik yaitu transferin (tf). Protein tadi berfungsi mengangkut zat besi berdasarkan saluran cerna ke seluruh jaringan tubuh khususnya sumsum tulang belakang, yg akan digunakan buat menciptakan hemoglobin sel darah merah. Asam fitat, tanin, & antasida bisa memblokir penyerapan zat besi ini.Faktor yg Mempengaruhi Penyerapan Zat Besi

Sayangnya, hanya lima-15% zat besi pada makanan diabsorbsi oleh orang dewasa menggunakan status zat besi baik. Dalam syarat defisiensi zat besi, absorbsi dapat mencapai 50%. Banyak faktor yang mempengaruhi penyerapan zat besi, pada antaranya: Bentuk Besi

Bentuk besi di dalam kuliner berpengaruh terhadap penyerapannya. Besi heme, yang adalah bagian dari hemoglobin dan mioglobin yang masih ada di pada daging hewan dapat diserap lebih efisien daripada besi non-heme. Besi heme ini masih ada pada daging, hati, ayam, ikan, udang & kerang, sedangkan besi non heme masih ada dalam telur, serealia, kacang-kacangan, & sayuran hijau.

Makanan menggunakan kandungan zat besi yg tinggi tidak selalu mmenjadi sumber zat besi terbaik. Kedelai mempunyai kandungan zat besi dua kali lebih banyak daripada daging sapi, namun zat besi pada kedelai yang bisa diserap oleh tubuh hanya sekitar 7%. Bayam pula tinggi akan zat besi, tetapi kurang menurut 2% dari besi pada bayam yang dapat diserap.Asam organik

Asam organik seperti Vitamin C sangat membantu penyerapan zat besi. Hal ini dikarenakan asam organik/vitamin C akan menciptakan kondisi lambung menjadi asam sehingga perubahan zat besi berdasarkan bentuk ferri sebagai bentuk ferro lebihh optimal. Bentuk ferro lebih gampang diserap tubuh. Di samping itu Vitamin C menciptakan gugus besi askorbat yang tetap larut pada pH lebih tinggi pada duodenum. Oleh karena itu, sangat dianjurkan mengonsumsi makanan sumber vitamin C bersamaan atau dalam waktu berdekatan menggunakan makanan yang mengandung zat besi.Asam Fitat

Asam fitat & faktor lain dalam serealia dan asam oksalat di pada sayuran bisa Mengganggu penyerapan besi. Faktor-faktor ini mengikat besi, sebagai akibatnya mempersulit penyerapannya. Protein kedelai menurunkan absorbsi besi karena nilai fitatnya yg tinggi. Vitamin C pada jumlah cukup dapat melawan sebagian impak faktor-faktor yang merusak penyerapan besi ini.Tanin

Tanin merupakan polifenol yg terdapat pada dalam teh, kopi dan beberapa jenis sayuran serta butir. Tanin jua bisa Mengganggu absorbsi besi dengan cara mengikat besi. Bila besi tubuh nir terlalu tinggi, sebaiknya tidak meminum teh atau kopi dalam saat makan.Tingkat Keasaman Lambung

Tingkat keasaman lambung meningkatkan daya larut besi. Kekurangan asam klorida (HCl) di pada lambung atau penggunaan obat-obatan yang bersifat basa misalnya antasid dapat menghalangi absorbsi besi.Faktor Intrinsik

Faktor Intrinsik/glikoprotein di pada lambung membantu penyerapan besi. Hal ini dikarenakan glikoprotein mengandung B12 yg mempunyai struktur yg sama menggunakan heme sehingga penyerapan zat besi menjadi lebih baik. Rendahnya glikoprotein dapat mengganggu penyerapan.Kebutuhan Tubuh

Kebutuhan tubuh akan zat besi berpengaruh akbar terhadap absorbsi besi. Bila tubuh kekurangan besi atau kebutuhan meningkat dalam masa pertumbuhan, absorbsi besi non-heme bisa meningkat sampai sepuluh kali sedangkan besi heme dua kali.

Writer  : Novia Akmaliyah, S.Gz

Editor & Proofreader: Jansen Ongko, MS.c, RD

Referensi:Iron absorption. [tersedia pada: http://sickle.bwh.harvard.edu/iron_absorption.html].Citra, A. 2015. Daya serap zat besi. [tersedia pada: http://www.apki.or.id/daya-serap-zat-besi/]Dewar G. 2009. Boosting iron absorption: a guide for the science-minded. [tersedia dalam: http://www.parentingscience.com/iron-absorption.html]http://www.nhs.uk/Conditions/vitamins-minerals/Pages/Iron.aspxhttp://www.smallcrab.com/kesehatan/1301-tujuh-faktor-yg-mensugesti-absorbsi-zat-besiWatson S. 2011. Vitamins and supplements lifestyle guide. [tersedia dalam: http://www.webmd.com/vitamins-and-supplements/lifestyle-guide-11/iron-supplements]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *